Muhammad Qasim dan Narasi Mimpi Akhir Zaman yang Menyebar hingga Indonesia

REDAKSI JNN

- Redaksi

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:31 WIB

5010 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Nama Muhammad Qasim bin Abdul-Karim, warga Pakistan, beberapa tahun terakhir menjadi perhatian di ruang digital karena pengakuannya mengalami ratusan mimpi yang disebutnya berkaitan dengan kehidupan umat Islam, konflik di Timur Tengah, hingga gambaran tentang masa depan dunia Islam.

Qasim mengaku mulai mengalami mimpi bernuansa keagamaan sejak usia muda. Dalam berbagai keterangannya, ia menyebut pernah bermimpi bertemu Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Menurut pengakuannya, rangkaian mimpi tersebut kemudian semakin sering terjadi dan ia mulai membagikannya kepada masyarakat sekitar 2014–2015.

Isi mimpi yang disampaikan Qasim banyak berkaitan dengan tema akhir zaman. Ia berbicara mengenai ancaman syirik, konflik dan kekacauan di Timur Tengah, kehancuran sebagian negeri Islam, kemunculan berbagai fitnah akhir zaman, hingga kebangkitan umat Islam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, Qasim menekankan bahwa pesan utama yang ingin disampaikannya bukanlah prediksi politik mengenai negara tertentu. Ia berulang kali mengajak umat Islam untuk kembali kepada tauhid dan menjauhi syirik. Dalam narasinya, kekuatan umat Islam tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan politik atau militer, tetapi oleh keteguhan iman dan ketaatan kepada Allah SWT.

Pakistan menempati posisi penting dalam narasi tersebut. Qasim menggambarkan kemungkinan munculnya kebangkitan Islam dari kawasan Asia Selatan. Dalam sejumlah keterangannya, Pakistan disebut memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai gejolak yang digambarkan terjadi menjelang akhir zaman.

Narasi itu kemudian berkembang melampaui Pakistan. Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara juga beberapa kali disebut dalam cerita mengenai mimpi Qasim. Ia mengaku pernah mengalami mimpi yang berkaitan dengan perjalanan ke Indonesia, Malaysia, dan negara-negara lain di kawasan tersebut.

Di kalangan pengikutnya, Indonesia bahkan dipandang memiliki posisi khusus karena jumlah penduduk Muslimnya yang besar. Sebagian pendukung Qasim menafsirkan kemunculan Indonesia dalam narasi mimpinya sebagai gambaran mengenai kemungkinan peran umat Islam di Nusantara dalam perkembangan dunia Islam pada masa mendatang.

Meski demikian, seluruh gambaran tersebut harus ditempatkan sebagai klaim dan pengalaman mimpi pribadi Muhammad Qasim, bukan sebagai fakta mengenai masa depan. Tidak ada dasar jurnalistik untuk menyatakan bahwa gambaran tersebut merupakan peristiwa yang pasti akan terjadi.

Qasim juga tidak secara terbuka menyatakan dirinya sebagai Imam Mahdi. Dalam sejumlah keterangannya, ia menyebut dirinya sebagai seorang Muslim biasa. Klaim mengenai kemungkinan dirinya berkaitan dengan Imam Mahdi justru berkembang di kalangan sebagian pengikut dan pihak yang menafsirkan narasi mimpinya.

Fenomena Muhammad Qasim memperlihatkan bagaimana narasi keagamaan dan isu akhir zaman dapat menyebar luas melalui media sosial. Di Indonesia, potongan video, artikel, serta pembahasan mengenai mimpinya beredar di berbagai platform digital dan kemudian melahirkan komunitas yang mendiskusikan serta menafsirkan isi mimpi tersebut.

Dalam konteks keagamaan, mimpi memiliki posisi yang berbeda dengan wahyu. Karena itu, klaim mengenai masa depan yang bersumber dari pengalaman mimpi seseorang tidak dapat diperlakukan sebagai kepastian atau dasar untuk menetapkan sebuah peristiwa akan terjadi.

Terlepas dari kontroversi mengenai klaim tersebut, pesan yang terus dikedepankan Qasim adalah ajakan kepada umat Islam untuk memperkuat tauhid dan menjauhi syirik. Sementara gambaran mengenai perang, kehancuran negeri-negeri Islam, konflik Timur Tengah, maupun kebangkitan Islam dari Pakistan tetap berada dalam wilayah narasi dan interpretasi yang perlu disikapi secara kritis.

Bagi masyarakat, terutama pengguna media sosial, informasi semacam ini penting dibaca dengan kehati-hatian. Perbedaan antara ajaran agama, tafsir, pengalaman spiritual pribadi, dan prediksi mengenai masa depan perlu tetap dijaga agar narasi akhir zaman tidak berubah menjadi klaim kepastian yang dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. (Red) 

Berita Terkait

Enam Bulan Berlalu, Korban Kecelakaan BMW BK 333 Masih Terbaring: “Kami Menunggu Keadilan”
Ahli Pidana UISU Nilai Unsur Pidana dalam Kasus Doddy Thahir Tak Terpenuhi
Lapas Sibolga Bersama TNI Bantu Bersihkan Rumah dan Fasilitas Umum Warga Terdampak Banjir
Lapas Sibolga Bersama Dinkes Kota Sibolga Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Skrining TB
Majelis Taklim Al Fajar Munjul Wakili Jakarta Timur di Tingkat Provinsi DKI
Lapas Sibolga Panen 65 Kg Pakcoy, Wujudkan Pembinaan Kemandirian Berbasis Ketahanan Pangan
Lapas Sibolga Gelar Razia Gabungan Bersama APH, 31 Kamar Hunian Diperiksa
Buka Jalan Masa Depan, Lapas Sibolga Fasilitasi Pendidikan Kesetaraan bagi Warga Binaan

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 20:00 WIB

Enam Bulan Berlalu, Korban Kecelakaan BMW BK 333 Masih Terbaring: “Kami Menunggu Keadilan”

Rabu, 30 September 2026 - 10:30 WIB

Ahli Pidana UISU Nilai Unsur Pidana dalam Kasus Doddy Thahir Tak Terpenuhi

Rabu, 30 September 2026 - 09:15 WIB

Lapas Sibolga Bersama TNI Bantu Bersihkan Rumah dan Fasilitas Umum Warga Terdampak Banjir

Rabu, 30 September 2026 - 08:55 WIB

Lapas Sibolga Bersama Dinkes Kota Sibolga Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Skrining TB

Rabu, 30 September 2026 - 06:48 WIB

Majelis Taklim Al Fajar Munjul Wakili Jakarta Timur di Tingkat Provinsi DKI

Minggu, 27 September 2026 - 06:03 WIB

Lapas Sibolga Gelar Razia Gabungan Bersama APH, 31 Kamar Hunian Diperiksa

Sabtu, 26 September 2026 - 14:52 WIB

Buka Jalan Masa Depan, Lapas Sibolga Fasilitasi Pendidikan Kesetaraan bagi Warga Binaan

Sabtu, 26 September 2026 - 00:06 WIB

Perjuangan Alm. Agus Permianto Melawan Stroke, Kisah di Tengah PBL Universitas Imelda

Berita Terbaru